Tampilkan postingan dengan label alatmusikperkusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alatmusikperkusi. Tampilkan semua postingan

Panduan Menguasai Drum Set: Dari Nol Hingga Profesional

    Bermain drum set adalah tentang koordinasi, ritme, dan ekspresi energi. Menguasai instrumen ini membutuhkan dedikasi pada pondasi yang benar dan latihan yang konsisten. Artikel ini akan memandu Anda melalui teknik-teknik kunci untuk membawa keterampilan bermain drum Anda dari nol hingga tingkat mahir.

Fondasi: Postur dan Genggaman (Grip)
    Langkah pertama yang krusial adalah memastikan postur tubuh benar. Duduklah tegak di bangku drum (throne) dengan kaki sedikit lebih lebar dari pinggul, dan paha sejajar lantai. Sesuaikan tinggi bangku agar kaki Anda dapat menekan pedal secara nyaman dan kuat.
Gambar 1. Gestur Bermain Drum

    Ada dua jenis genggaman utama untuk drumstick:
  1. Matched Grip: Genggaman paling umum di mana kedua tangan memegang stik dengan cara yang sama, biasanya dengan ibu jari dan jari telunjuk membentuk tumpuan (fulcrum).
  2. Traditional Grip: Genggaman khas untuk tangan kiri (bagi pemain right-handed) yang lebih umum dalam musik jazz, dengan stik bertumpu di antara ibu jari dan pangkal telunjuk.
    Pilihlah salah satu, fokus pada genggaman yang rileks namun kokoh untuk mencegah cedera dan memaksimalkan kontrol.
Menguasai Rudiments dan Teknik Tangan
    Rudiments adalah "abjad" dari permainan drum, pola pukulan dasar yang membentuk dasar dari setiap irama kompleks. Fokus pada dua rudiments paling penting:
  1. Single Stroke Roll: Pukulan tunggal bergantian (Kanan, Kiri, Kanan, Kiri...). Latih ini di atas practice pad dengan metronome untuk memastikan konsistensi timing dan dinamika.
  2. Double Stroke Roll: Dua pukulan per tangan bergantian (Kanan, Kanan, Kiri, Kiri...). Ini membutuhkan kontrol pantulan (rebound) stik yang baik.
   Kuasai juga teknik pukulan dasar seperti full stroke (pukulan penuh), tap stroke (pukulan ringan), dan ghost note (nada hantu/sangat lembut) untuk menambah nuansa pada permainan anda.
Koordinasi Kaki
    Kaki Anda sama pentingnya dengan tangan Anda. Latih kontrol pada pedal bass drum dan hi-hat. Gunakan metronome untuk melatih kaki Anda memainkan ketukan dasar (misalnya, bass drum di ketukan 1 dan 3, hi-hat di ketukan 2 dan 4) secara stabil, sebelum mengintegrasikan pukulan tangan.
Membangun Ritme: Groove dan Fill-ins
    Setelah menguasai teknik dasar, mulailah belajar groove atau irama dasar. Pola paling umum adalah:
  • Hi-hat di setiap ketukan.
  • Snare drum di ketukan 2 dan 4 (disebut backbeat).
  • Bass drum di ketukan 1 dan 3 (atau pola lain yang umum dalam genre musik tertentu).
 Latih fill-ins (variasi pendek yang mengisi jeda antar bagian lagu) dengan menggunakan rudiments yang telah Anda pelajari untuk berpindah antar tom-tom dan snare drum.
Latihan Konsisten dan Mendengar Aktif
    Menguasai drum adalah sebuah maraton. Latihan harian dengan metronome sangat penting. Selain itu, dengarkan musik secara aktif. Perhatikan apa yang dimainkan oleh drumer favorit Anda dan coba tirukan pola mereka. Ini akan membantu anda mengembangkan musikalitas dan pemahaman tentang peran drum dalam sebuah lagu. Dengan kesabaran, fokus pada fondasi, dan latihan yang tekun, anda dapat menguasai drum set dan menjadi drumer yang solid.

Menelusuri Jejak Irama Purba di Bumi Nusantara

Alat musik prasejarah Nusantara

    Perjalanan melintasi sejarah musik di Indonesia membawa kita jauh ke masa lampau, ke era prasejarah ketika manusia masih mengandalkan alam untuk bertahan hidup dan berekspresi. Meskipun bukti fisik berupa artefak alat perkusi yang utuh dan berusia puluhan ribu tahun belum ditemukan, seperti halnya temuan tulang mammoth di Mezin, Ukraina, jejak-jejak imajiner dari irama purba tetap dapat kita telusuri. Kehadiran alat perkusi di masa lalu Nusantara bukanlah hal yang mustahil, melainkan sebuah kemungkinan besar yang tercermin dari temuan-temuan arkeologis lain dan perkembangan budaya yang ada

    Pada masa prasejarah, manusia purba di wilayah yang kini dikenal sebagai Indonesia memanfaatkan segala yang tersedia di alam untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk kebutuhan akan ekspresi artistik dan spiritual. Perkusi, sebagai bentuk musik paling mendasar, kemungkinan besar diawali dengan cara-cara yang paling sederhana: menepukkan tangan, mengentakkan kaki, atau memukul-mukul benda alam seperti batu dan kayu. Suara berirama ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian integral dari ritual, upacara, dan kegiatan komunal, seperti yang terlihat dari tradisi perkusi yang masih hidup hingga kini di berbagai suku pedalaman.

    Bukti arkeologis dari periode yang lebih muda, seperti zaman Neolitikum dan Megalitikum, memberikan petunjuk tidak langsung. Temuan gerabah yang digunakan sebagai wadah makanan, bisa saja secara tak sengaja atau sengaja digunakan sebagai instrumen perkusi. Peninggalan Megalitikum seperti punden berundak dan dolmen, meskipun bukan alat musik, menunjukkan adanya struktur sosial yang kompleks dan tradisi ritual yang kuat. Dalam upacara-upacara ini, musik perkusi diyakini berperan penting dalam menciptakan suasana magis dan sakral.

    Tentu saja, alat perkusi dari bahan organik, seperti drum kulit yang umum dalam kebudayaan kuno, mungkin sudah ada sejak lama di Nusantara. Namun, bahan-bahan ini mudah lapuk seiring berjalannya waktu, sehingga artefak aslinya tidak bertahan hingga masa kini. Di sisi lain, penemuan nekara perunggu dari zaman logam, yang usianya jauh lebih muda, menjadi bukti nyata bahwa alat perkusi logam sudah digunakan secara luas di Nusantara, menandakan perkembangan kebudayaan yang lebih maju.

    Meskipun detail pasti mengenai alat perkusi prasejarah di Indonesia masih menjadi misteri, kita dapat membayangkan manusia purba di sini, sama seperti leluhur di belahan dunia lain, menggunakan ritme sebagai bahasa pertama mereka. Dari dentuman sederhana batu ke batu, hingga pukulan kayu berongga yang menghasilkan resonansi, musik perkusi adalah fondasi yang membuka jalan bagi kebudayaan musik yang lebih kompleks. Kisah ini adalah pengingat bahwa hasrat manusia untuk menciptakan irama telah mendarah daging di setiap peradaban, termasuk di Bumi Nusantara yang kaya akan sejarah.

La La Land Concert Experience with Twillite Orchestra | cond. Addie MS | Vibraphone Player |

Konser La La Land bertajuk Live In Concert di Jiexpo Kemayoran pada tanggal 26 Juli 2025 sebanyak 2x penampilan sangat spektakuler dengan antusiasme penonton hampir memenuhi gedung Concert Hall. Garapan musik yang elok oleh musisi-musisi dari Twillite Orchestra yang dipimpin oleh maestro Addie MS, serasa membuat penonton larut dalam film yang banyak mendapatkan piala Oscar dalam berbagai kategori.



Justin Hurwitz merupakan komposer dan penulis asal Amerika Serikat yang dikenal luas atas kontribusinya dalam musik film La La Land (2016),di mana ia meraih dua Academy Awards untuk Musik Orisinal Terbaik dan Lagu Orisinal Terbaik ( City  of Stars ). Hurwitz juga memiliki  kolaborasi jangka panjang dengan sutradara Damien Chazelle,yang juga menggarap film-film seperti Whiplash dan First Man.

 

Konser dimulai  dari  Overture ( 1M1 ) seluruh pemain dengan perannya masing-masing memulai scoring musik film La La Land yang ditonton sekitar 1500 orang pada malam itu. Penulis memainkan Vibraphone pada perkusi section yang mana perannya cukup penting karena terdapat beberapa scene ( 1M13, 4M1, dll ) dimainkan secara solo (melodi diperankan sendirian). Tempo dan sukat yang sering berubah, bersamaan telinga harus mendengarkan Click/Metronome yang tersinkornisasi dengan Film, membuat konsentrasi harus cerdas dan tidak bisa di ganggu gugat.

Show 1 cukup sukses dengan total scoring sekitar 25 scene ( Act 1 dan Act 2 ) dengan antusias penonton yang bersorak merespon film dan musik secara berkelanjutan membuat semangat para musisi Twillite Orchestra semakin membara dan bergelora seperti genderang yang mau perang.(hehehe) Lanjut dengan show yang ke-2 ( Lets Do It !! ) tidak kalah seru Guys, penonton semakin memenuhi Concert Hall JiExpo Kemayoran. Gaya penampilan para penonton sangat nyentrik karena ber-Cosplay gaya Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling) dengan dress dan kemeja vintage 80an.



Pengalaman yang ke-2 kalinya setelah pada tahun 2015 pernah juga memainkan part ini dengan bermain vibraphone juga bersama Singgih Sanjaya Orkestra (SSO) dengan concuctor Erik Ohsner yang juga memimpin orchestra La La Land In Concert yang digelar di Hollywood Bowl. Saat itu permainan penulis masih belum semahir sekarang, jadi masih banyak yang perlu dibenahi kala itu sampai menjelang konser. Erik sempat bilang “ Hey Whats are u doing, tomorrow is show, if u not serious YOU OUT “ FUCK!! kubilang saat itu dalam hati, matilah awak nih. Kudu kerja keras mati2an ini. Yawis lah kataku, tak ada gading yang tak retak ibarat peribahasa yang membuat ane latihan lagi sampai darah berhenti mengalir.



VIBRAPHONE : MENGENAL TEKNIK DAN CARA BERMAIN

    Vibraphone telah mengalami peningkatan popularitas selama dekade terakhir. Bandingkan "seperti yang baru ditemukan" dan sebagian besar disebabkan oleh pemain lawas seperti Gary Burton, Milt Jackson, Mike Mainieri, dan David Friedman. Sementara para pemain ini (dan pemain yang sama dengan mereka) harus mencari dan berebut untuk menemukan pembelajaran dan literatur yang sesuai, dan akhirnya bagi pemula saat ini memiliki tugas yang jauh lebih mudah. Sayangnya banyak yang masih menggunakan materi dan solo yang sudah ketinggalan zaman. Kadang literatur marimba dan xylophone, meskipun menantang, tidak ditulis secara khusus untuk vibraphone dan tidak berfokus pada teknik vibraphone sendiri seperti teknik pedaling dan dampening.

Sumber: https://kontaktlibraries.com/wp-content/uploads/2016/05/VIBRAPHONEYAMAHAYV1600A-4.jpg

    Karena masalah teknis yang sulit, banyak literatur keyboard percussion standar yang tidak dapat digunakan. Seperti teknik sustain pedal, mallet dampening, hand dampening, penggunaan motor, lengkungan nada, vibrato mulut, dan permainan arco semuanya unik untuk vibraphone. Karena teknik ini dan suara yang dihasilkan, pemilihan bahan yang sesuai harus dilakukan benar dan hati-hati. Artikel ini akan mencoba menjelaskan berbagai teknik dan mengidentifikasi beberapa metode yang disusun dengan seksama dalam pemikiran dasar instrumen vibraphone. Pertama-tama saya ingin menjelaskan dan memperjelas teknik yang disebutkan di atas:

SUSTAIN PEDAL: Kekuatan sustain pada vibraphone terletak pada penahan getaran bilah, maka untuk menahan agar tidak terlalu lama gaungnya diperlukan dempaning pedal. Sebagai aturan yang sangat umum, pedal digunakan di antara pergantian akord atau frase. Pemain juga harus tahu kapan menggunakan pedal dan dimana dia harus menggunakannya, sama dengan pedal pada piano yang dapat memberikan efek yang berbeda.

MALLET DAMPENING: Simbol untuk meredam bilah adalah “X” dan penulisannya ada di atas not. Getaran nada yang lama harus dihentikan dengan menekan kepala mallet ke bilah saat nada dibunyikan. Tekanan mallet yang kuat membuat not setelahnya harus dapat menutupi dampak meredam dari not sebelumnya.

HAND DAMPENING: Pada dasarnya sama dengan meredam dengan mallet kecuali pemain menggunakan sisi bawah jari kelingking untuk menghentikan getaran pada bilah.

MOTOR: Banyak pemain modern saat ini tidak menggunakan motor sama sekali. Jika motor digunakan dalam pemilihan lagu, tentu saja harus mencoba untuk bereksperimen dengan berbagai kecepatan motor untuk menentukan yang paling tepat.

NOTE BENDING: Efek luar biasa ini membutuhkan sedikit latihan untuk menguasainya. Pukul nada dan kemudian untuk membengkokkan (melengkung) nada, letakkan kepala mallet (hard/rubber) di titik nodal (tempat tali melewati bilah). Tekan mallet karet tersebut ke dalam simpul dan tarik maleet ke arah kita. Ini akan memberikan efek nada yang dapat diturunkan atau dinaikkan. Seperti fungsi pada scroll keyboard.

MOUTH VIBRATO: Efek ini hanya akan bekerja pada nada atas instrumen. Setelah memukul salah satu nada atas, tempatkan mulut kita sekitar satu hingga dua inci di atas bilah. Dengan membuka dan menutup mulut kita, bilah akan merespons dengan jenis suara "vibrato a,i,u,e,o" (rongga mulut kira-kira seukuran resonator atas). Oleh karena itu, dengan membuka dan menutup mulut, intensitas suara dapat berkurang dan diperkuat.

ARCO: Geseklah bow contra bass atau cello di ujung bilah vibraphone. Ini akan menghasilkan suara yang sangat berbeda, harmonik yang paling terdengar. Seorang komposer akan meminta suara ini dengan menunjukkan "arco" pada part atau nada tertentu.

ONE-HAND DAMPENING: Setelah memukul nada, segera posisikan tangan yang sama untuk meredam bilah yang dipukul sebelumnya. Teknik ini perlu digunakan jika salah satu tangan sibuk dan tidak dapat digunakan untuk membantu tangan lainnya. Ini juga berguna untuk memainkan double stop (dua nada sekaligus), dengan tangan yang sama lalu pukul dua nada dan kemudian pindah kembali dengan meredam kedua nada tadi. Ini sangat efektif pada saat memainkan Multi-Percussion yang harus memainkan banyak alat namun hanya terbatas menggunakan dua tangan.

ONE HAND ROLL: Dengan pedal sustain di bawah, gunakan salah satu tangan untuk "memukulkan" mallet secara bolak-balik di antara dua not berbeda. Dengan sedikit latihan, teknik ini akan terdengar seperti roll yang halus dan akan membebaskan sisi yang lain untuk memainkan nada yang independen.

 

Sumber: Vibraphone: Technique, Methods, Solos Jim McKinney Vol 3, #4, p. 14 (Mar-Apr. 1998) [Complete article from BANDWORLD Magazine]

Anatomi : Bagian-bagian Pada Alat musik Timpani

    Timpani (kadang dikenal sebagai “drum ketel”) digunakan dalam banyak jenis ansambel, termasuk konser band, marching band, orkestra, dan bahkan oleh beberapa band rock. Timpani terdiri dari membran (head) yang direntangkan di atas mangkuk besar yang secara tradisional terbuat dari tembaga, dan dimainkan dengan memukul head tersebut dengan pemukul khusus yang disebut mallet/ stick. Menurut sejarah, sejak jaman pra sejarah timpani sudah dikenal sebagai alat musik untuk ritual dan penyemangat berburu, namun seiring perkembangan waktu dan semakin berubah bentuk jenis timpani, maka mulai digunakan sebagai pertunjukan untuk menghibur orang. Jenis timpani sangat beragam dilihat dari zaman digunakannya alat ini, seperti zaman barok (awal mula timpani modern digunakan untuk pertunjukan musik) timpani saat itu tidak memiliki pedal kaki, tapi cara menyetemnyanya dengan memutar Lug/ skurp yang mengeliling head timpani satu per satu.  Oleh hal itu seiring perkembangan zaman timpani modern saat ini dapat disetel dengan cepat dan akurat ke nada tertentu menggunakan pedal kaki yang dapat digerakkan.

    Berikut adalah ilustrasi dari tipe timpano ("timpani" adalah jamak untuk kumpulan timpano), diikuti dengan deskripsi tiap bagian, dalam urutan abjad:

https://hub.yamaha.com/wp-content/uploads/2019/04/Timpani-Anatomy-body-image.jpg 
 

Auxiliary Brake: Ini terletak di bawah pedal. Saat terkunci, itu mencegah timpano bergerak.

Base: Mekanisme penyetelan ditempatkan di bawah dasar setiap timpano. Dasarnya berat untuk menjaga keseimbangan setiap drum dan untuk meningkatkan resonansi.

Bearing Edge: Bibir mangkuk timpano dikenal sebagai tepi bantalan. Ini mentransfer energi dari kepala ke mangkuk untuk menentukan nada.

Bowl: Bentuk dan bahan permukaan mangkuk membantu menentukan timbre drum. Mangkuk hemispheric menghasilkan nada yang lebih cerah sedangkan mangkuk parabola menghasilkan nada yang lebih gelap.

Cable Band: Memasang kabel timpano ke penyangga.

Head: Ini dapat dibuat dari kulit binatang (umumnya kulit anak sapi) atau plastik. Kedua jenis kepala harus dipasang secara berbeda (lihat petunjuk yang disertakan bersama head.) Head plastik lebih mudah dirawat karena tidak rentan terhadap perubahan kelembapan dan suhu; mereka juga umumnya lebih mudah dipasang.

Head Protector: Melindungi head timpani dari debu. Selalu letakkan ini pada timpano saat instrumen tidak digunakan.

Hoop (Counterhoop): Sekrup yang mengencangkan head timpano.

Main Caster: Roda, memungkinkan timpani untuk dipindahkan dengan mudah. Mereka harus dikunci selama pertunjukan untuk mencegah drum bergerak dari sisi ke sisi.

PAC (Pedal Adjustment Knob): Mekanisme ini memungkinkan Anda menyesuaikan porsi pedal (berat pedal) sambil mempertahankan keseimbangan pedal. Putar kenop berlawanan arah jarum jam (kiri) untuk membuka kunci. Agar pedal terasa lebih berat, putar kenop searah jarum jam.

Pointer Lock Nut: Mengunci indikator tuning pada tempatnya setelah fine-tuning.

Spring Tension Adjustment Bolt: Menyesuaikan baut, ini memungkinkan kuat lemahnya pedal disetel ke preferensi individu.

Tension Rod: Batang logam berulir ini dimasukkan ke dalam casing lug. Ini dapat dikencangkan atau dilonggarkan untuk menyetel drum ke nada yang diinginkan.

Tuning Indicator: Skala pengukuran yang digunakan sebagai panduan visual dalam menyetel nada setiap timpano.

 

Sumber: https://hub.yamaha.com/wp-content/uploads/2019/04/Timpani-Anatomy

Latihan Drum Mahir: Panduan Lengkap

     Banyak orang berpikir main drum itu cuma soal pukul-pukul keras dan terlihat keren di panggung. Tapi sebenarnya, drum adalah instrumen ...