Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Menelusuri Jejak Irama Purba di Bumi Nusantara

Alat musik prasejarah Nusantara

    Perjalanan melintasi sejarah musik di Indonesia membawa kita jauh ke masa lampau, ke era prasejarah ketika manusia masih mengandalkan alam untuk bertahan hidup dan berekspresi. Meskipun bukti fisik berupa artefak alat perkusi yang utuh dan berusia puluhan ribu tahun belum ditemukan, seperti halnya temuan tulang mammoth di Mezin, Ukraina, jejak-jejak imajiner dari irama purba tetap dapat kita telusuri. Kehadiran alat perkusi di masa lalu Nusantara bukanlah hal yang mustahil, melainkan sebuah kemungkinan besar yang tercermin dari temuan-temuan arkeologis lain dan perkembangan budaya yang ada

    Pada masa prasejarah, manusia purba di wilayah yang kini dikenal sebagai Indonesia memanfaatkan segala yang tersedia di alam untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk kebutuhan akan ekspresi artistik dan spiritual. Perkusi, sebagai bentuk musik paling mendasar, kemungkinan besar diawali dengan cara-cara yang paling sederhana: menepukkan tangan, mengentakkan kaki, atau memukul-mukul benda alam seperti batu dan kayu. Suara berirama ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian integral dari ritual, upacara, dan kegiatan komunal, seperti yang terlihat dari tradisi perkusi yang masih hidup hingga kini di berbagai suku pedalaman.

    Bukti arkeologis dari periode yang lebih muda, seperti zaman Neolitikum dan Megalitikum, memberikan petunjuk tidak langsung. Temuan gerabah yang digunakan sebagai wadah makanan, bisa saja secara tak sengaja atau sengaja digunakan sebagai instrumen perkusi. Peninggalan Megalitikum seperti punden berundak dan dolmen, meskipun bukan alat musik, menunjukkan adanya struktur sosial yang kompleks dan tradisi ritual yang kuat. Dalam upacara-upacara ini, musik perkusi diyakini berperan penting dalam menciptakan suasana magis dan sakral.

    Tentu saja, alat perkusi dari bahan organik, seperti drum kulit yang umum dalam kebudayaan kuno, mungkin sudah ada sejak lama di Nusantara. Namun, bahan-bahan ini mudah lapuk seiring berjalannya waktu, sehingga artefak aslinya tidak bertahan hingga masa kini. Di sisi lain, penemuan nekara perunggu dari zaman logam, yang usianya jauh lebih muda, menjadi bukti nyata bahwa alat perkusi logam sudah digunakan secara luas di Nusantara, menandakan perkembangan kebudayaan yang lebih maju.

    Meskipun detail pasti mengenai alat perkusi prasejarah di Indonesia masih menjadi misteri, kita dapat membayangkan manusia purba di sini, sama seperti leluhur di belahan dunia lain, menggunakan ritme sebagai bahasa pertama mereka. Dari dentuman sederhana batu ke batu, hingga pukulan kayu berongga yang menghasilkan resonansi, musik perkusi adalah fondasi yang membuka jalan bagi kebudayaan musik yang lebih kompleks. Kisah ini adalah pengingat bahwa hasrat manusia untuk menciptakan irama telah mendarah daging di setiap peradaban, termasuk di Bumi Nusantara yang kaya akan sejarah.

Fundamental Timpani Studies | "Teknik Dasar Timpani" |

Pendekatan dan Penyesuaian Tuning:
  1. Bersihkan bagian permukaan Head Timpani.
  2. Dapatkan dan sesuaikan nada yang dicari.
  3. Pukul Timpani dengan Mallet yang sesuai.
  4. Glissando ( pedal ) hingga mencapai nada yang dicapai ( dekatkan telinga rata dengan Head ).
  5. Pukul lagi untuk memastikan nada sudah tepat.
Timpani Range

Macam pegangan Stik:

  1. Pegangan ala Prancis - Pergelangan tangan vertikal, ibu jari menghadap ke atas. Pukulan dihasilkan dengan memutar lengan bawah.
  2. Pegangan ala Jerman - Pergelangan tangan datar. Pukulan dihasilkan dengan memutar pergelangan tangan.
  3. Pegangan ala Amerika - gabungan dari dua pegangan sebelumnya. Mirip dengan pegangan snare drum yang cocok.

Note: Top-French grips and bottom-German grips

Area Bermain: Saat memainkan timpani, seseorang harus memukul di dekat tepi drum untuk mendapatkan suara terbaik. Untuk bagian tengah drum menghasilkan suara yang sangat kering dan artikulatif, tetapi hanya boleh digunakan dalam keadaan khusus. Seseorang harus mengatur timpani sedemikian rupa sehingga memungkinkan mereka bergerak di titik pukul yang tepat dengan nyaman.


Pukulan Legato: Jenis pukulan ini dapat digunakan dalam semua dinamika. Teknik ini sebaiknya digunakan untuk nada-nada panjang yang terisolasi dan membutuhkan suara penuh. Teknik ini dimainkan dengan gerakan halus dan alami yang memanfaatkan pantulan penuh, sehingga suara yang dibayangkan keluar dengan sendirinya.

Zona Stroke

Pukulan Staccato: Jenis pukulan ini dapat digunakan di semua dinamika. Teknik ini sebaiknya digunakan untuk bagian-bagian yang artikulatif. Kecepatan dan pantulan pukulan lebih cepat daripada teknik legato. Bayangkan hasil suara yang tajam saat berlatih pukulan ini.

Rolling: Gulungan timpani dilakukan dengan pukulan tunggal (bukan buzz stroke atau double bounce). Satu roll tidak lebih dari serangkaian pukulan legato. Setiap roll harus memiliki awal, tengah, dan akhir yang jelas.

Muffling: Muffling paling baik dilakukan dengan memberikan tekanan pada permukaan timpani dengan jari tengah, jari manis, dan jari kelingking di atas area pemukulan yang tepat. Mallet tetap berada di tangan, digenggam dengan ibu jari dan jari telunjuk.


Refrensi Buku Timpani:

  • Metode Dasar untuk Timpani - Mitchell Peters
  • Latihan, Etude, dan Solo untuk Timpani - Raynorr Carroll
  • Metode Modern untuk Timpani - Saul Goodman
  • Metode Timpani Lengkap - Alfred Friese/ Alexander Lepak

Kolaborasi Musik Orkestra dan Gamelan dengan Konduktor Addie MS

 

Konser ini merupakan konser kesekian kalinya dengan Addie MS, yang dimana sebelumnya telah menyelenggarakan konser dengan Riki Putra di Jakarta. Dengan format gamelan orkestra dan mengusung genre pop culture menjadikan konser ini memiliki nuansa keberagaman Indonesia. Berkolaborasi juga dengan beberapa musisi Jogja seperti, Eross Sheila On 7.

Dalam hal ini saya bermain timpani dengan jumlah 3 ketel, yang umum ditemukan untuk format orkestra dengan band/combo seperti itu. Dengan arransemen yang ciamik dari beberapa komposer dari Jogja tentunya mengahasilkan musik yang tidak mudah jenuh dinikmati oleh khalayak muda, yang cenderung memandang gamelan itu musik yang monoton, tetapi dengan arrasemen yang berbeda membuat konser saat itu menjadi megah dan mewah.

Semoga semakin banyak penerus muda yang menyukai gamelan, walaupun dengan cara apapun dia melestarikannya. Sehingga tidak ada kata mati untuk musik gamelan nantinya.

Terima Kasih

Festival Marimba di Yogyakarta

Marimba merupakan instrumen perkusi yang tidak asing lagi ditelinga kita. Sehingga sudah layaknya Indonesia bisa mempertemukan para pemain marimba di seluruh Indonesia lewat even ini. Apakah bisa kita mengadakan even ini ??. Bagi kalian yang ingin mendukung terselenggaranya even ini, mari komentar dan bisa bertukar pikiran. Salam perkusi. Terima Kasih

Latihan Drum Mahir: Panduan Lengkap

     Banyak orang berpikir main drum itu cuma soal pukul-pukul keras dan terlihat keren di panggung. Tapi sebenarnya, drum adalah instrumen ...