Tampilkan postingan dengan label prasejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prasejarah. Tampilkan semua postingan

Mengungkap Alat Perkusi Tertua Dunia "Dari Tulang Mammoth di Mezyn"

  Sejak zaman prasejarah, manusia telah mencari cara untuk berekspresi, salah satunya melalui musik. Jauh sebelum drum modern dengan kulit yang direntangkan, instrumen perkusi sudah ada dalam bentuk yang paling sederhana. Alat perkusi tertua di dunia yang ditemukan hingga saat ini adalah sekumpulan tulang mammoth yang berusia sekitar 24.000 tahun. Temuan arkeologis yang luar biasa ini digali di sebuah situs kuno di Mezyn, Ukraina, dan membuka jendela baru bagi kita untuk memahami asal-usul musik dan kreativitas manusia purba.

Penemuan di Situs Mezyn
    Pada awal abad ke-20, para arkeolog menggali sebuah permukiman kuno di Mezyn, Ukraina, yang dihuni oleh sekelompok pemburu-pengumpul. Di antara artefak-artefak lainnya, mereka menemukan hal yang luar biasa: beberapa tulang mammoth, termasuk tulang belikat dan tulang paha, yang telah dimodifikasi. Permukaan tulang-tulang ini dihiasi dengan pola geometris yang dicat menggunakan oker merah, pigmen mineral yang umum digunakan oleh manusia prasejarah.
    Namun, yang paling mencolok adalah adanya bekas pukulan yang berulang dan teratur pada beberapa bagian tulang. Bersamaan dengan tulang-tulang tersebut, ditemukan pula palu yang terbuat dari tanduk rusa kutub. Kombinasi temuan ini mengarah pada satu kesimpulan yang mengejutkan: manusia purba di Mezyn menggunakan tulang-tulang mammoth ini sebagai instrumen perkusi untuk menghasilkan irama.
Ilustrasi seorang manusia prasejarah sedang memukul tulang mammotth
Bukan Sekadar Alat Musik
    Temuan ini lebih dari sekadar bukti bahwa manusia prasejarah memiliki alat musik. Adanya dekorasi rumit pada tulang menunjukkan bahwa instrumen ini memiliki makna yang lebih dalam, mungkin terkait dengan ritual, upacara, atau ekspresi budaya. Pola geometris yang terukir dan oker merah yang dilukiskan memberikan petunjuk tentang simbolisme dan kesadaran artistik yang sudah berkembang pada masa itu.
    Para peneliti meyakini bahwa instrumen ini digunakan untuk mengiringi nyanyian, tarian, atau bahkan sebagai bagian dari upacara keagamaan. Hal ini mengindikasikan bahwa musik telah menjadi bagian integral dari kehidupan sosial dan spiritual manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Penggunaan benda-benda yang sangat besar dan kuat seperti tulang mammoth juga menunjukkan bahwa musik perkusi pada masa itu mungkin memiliki peran penting dalam menyatukan komunitas.
Perkusi, Fondasi Musik Prasejarah
    Penemuan di Mezyn memperkuat teori bahwa perkusi adalah bentuk musik yang paling mendasar dan paling awal. Sebelum manusia mampu menciptakan melodi yang kompleks dengan alat musik tiup seperti seruling tulang (yang juga sangat kuno), mereka terlebih dahulu mengeksplorasi irama. Perkusi memungkinkan manusia untuk menciptakan ritme yang dapat menggerakkan tubuh dan memengaruhi emosi, menjadikannya sarana komunikasi yang kuat dalam kelompok.
    Meskipun tulang mammoth dari Mezyn adalah contoh alat perkusi tertua yang memiliki bukti fisik jelas, perkusi dalam bentuk yang lebih sederhana kemungkinan jauh lebih tua. Tepukan tangan, ketukan kaki, atau pukulan pada batang pohon berongga mungkin adalah bentuk perkusi yang paling primitif. Namun, temuan di Mezyn memberikan bukti konkret pertama tentang adanya instrumen perkusi yang sengaja diciptakan dan digunakan oleh manusia purba.
Warisan Budaya Abadi
    Alat perkusi dari Mezyn bukan hanya sebuah artefak arkeologis; ia adalah warisan budaya yang abadi. Kisahnya mengingatkan kita bahwa hasrat manusia untuk menciptakan musik dan irama adalah sesuatu yang telah mendarah daging selama ribuan generasi. Dari tulang mammoth yang dipukul berirama hingga drum set modern, perjalanan musik perkusi adalah cerminan evolusi kreativitas dan ekspresi manusia.

Anatomi : Bagian-bagian Pada Alat musik Timpani

    Timpani (kadang dikenal sebagai “drum ketel”) digunakan dalam banyak jenis ansambel, termasuk konser band, marching band, orkestra, dan bahkan oleh beberapa band rock. Timpani terdiri dari membran (head) yang direntangkan di atas mangkuk besar yang secara tradisional terbuat dari tembaga, dan dimainkan dengan memukul head tersebut dengan pemukul khusus yang disebut mallet/ stick. Menurut sejarah, sejak jaman pra sejarah timpani sudah dikenal sebagai alat musik untuk ritual dan penyemangat berburu, namun seiring perkembangan waktu dan semakin berubah bentuk jenis timpani, maka mulai digunakan sebagai pertunjukan untuk menghibur orang. Jenis timpani sangat beragam dilihat dari zaman digunakannya alat ini, seperti zaman barok (awal mula timpani modern digunakan untuk pertunjukan musik) timpani saat itu tidak memiliki pedal kaki, tapi cara menyetemnyanya dengan memutar Lug/ skurp yang mengeliling head timpani satu per satu.  Oleh hal itu seiring perkembangan zaman timpani modern saat ini dapat disetel dengan cepat dan akurat ke nada tertentu menggunakan pedal kaki yang dapat digerakkan.

    Berikut adalah ilustrasi dari tipe timpano ("timpani" adalah jamak untuk kumpulan timpano), diikuti dengan deskripsi tiap bagian, dalam urutan abjad:

https://hub.yamaha.com/wp-content/uploads/2019/04/Timpani-Anatomy-body-image.jpg 
 

Auxiliary Brake: Ini terletak di bawah pedal. Saat terkunci, itu mencegah timpano bergerak.

Base: Mekanisme penyetelan ditempatkan di bawah dasar setiap timpano. Dasarnya berat untuk menjaga keseimbangan setiap drum dan untuk meningkatkan resonansi.

Bearing Edge: Bibir mangkuk timpano dikenal sebagai tepi bantalan. Ini mentransfer energi dari kepala ke mangkuk untuk menentukan nada.

Bowl: Bentuk dan bahan permukaan mangkuk membantu menentukan timbre drum. Mangkuk hemispheric menghasilkan nada yang lebih cerah sedangkan mangkuk parabola menghasilkan nada yang lebih gelap.

Cable Band: Memasang kabel timpano ke penyangga.

Head: Ini dapat dibuat dari kulit binatang (umumnya kulit anak sapi) atau plastik. Kedua jenis kepala harus dipasang secara berbeda (lihat petunjuk yang disertakan bersama head.) Head plastik lebih mudah dirawat karena tidak rentan terhadap perubahan kelembapan dan suhu; mereka juga umumnya lebih mudah dipasang.

Head Protector: Melindungi head timpani dari debu. Selalu letakkan ini pada timpano saat instrumen tidak digunakan.

Hoop (Counterhoop): Sekrup yang mengencangkan head timpano.

Main Caster: Roda, memungkinkan timpani untuk dipindahkan dengan mudah. Mereka harus dikunci selama pertunjukan untuk mencegah drum bergerak dari sisi ke sisi.

PAC (Pedal Adjustment Knob): Mekanisme ini memungkinkan Anda menyesuaikan porsi pedal (berat pedal) sambil mempertahankan keseimbangan pedal. Putar kenop berlawanan arah jarum jam (kiri) untuk membuka kunci. Agar pedal terasa lebih berat, putar kenop searah jarum jam.

Pointer Lock Nut: Mengunci indikator tuning pada tempatnya setelah fine-tuning.

Spring Tension Adjustment Bolt: Menyesuaikan baut, ini memungkinkan kuat lemahnya pedal disetel ke preferensi individu.

Tension Rod: Batang logam berulir ini dimasukkan ke dalam casing lug. Ini dapat dikencangkan atau dilonggarkan untuk menyetel drum ke nada yang diinginkan.

Tuning Indicator: Skala pengukuran yang digunakan sebagai panduan visual dalam menyetel nada setiap timpano.

 

Sumber: https://hub.yamaha.com/wp-content/uploads/2019/04/Timpani-Anatomy

Latihan Drum Mahir: Panduan Lengkap

     Banyak orang berpikir main drum itu cuma soal pukul-pukul keras dan terlihat keren di panggung. Tapi sebenarnya, drum adalah instrumen ...