Tampilkan postingan dengan label kampungmusikanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kampungmusikanan. Tampilkan semua postingan

Sayembara Orkestrasi Gending Prajurit Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Setelah hampir 4 tahun yang awalnya hanya mengetahui dari luar dan cerita serta warta berita, menjadi bagian dari Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat di Kawedhanan Kridhamardawa, menjadikan sebuah pengalaman sebagai jalan kehidupan, yang bertaut menjadi sebuah filosofi perjalanan spritual penulis yang mendapat nama paringan dalem Mas Jajar Hatmowaditro bagian dari Abdi Dalem Musikan. Tidak ada kata terlambat untuk memulai sebuah pilihan hidup, kadang merasa keliru tapi seringkali muncul dalam kebenaran yang menjadikan penulis merasa perlu adanya kesiambangan dalam hidup.


Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) dibawah Penghageng KPH Notonegoro, merupakan wadah para pemain musik khususnya musik barat dengan gabungan dari beberapa instrumen seperti String, Woodwind, Brass, dan Perkusi. Dibentuk pada tahun 2021 ditengah kondisi negara dilanda Covid 19, namun semangat masih tetap ada. Sudah banyak sekali pertunjukan yang dilakukan dengan berkolaborasi dengan banyak artis, baik nasional maupun internasional hingga tahun ini.


KPH Notonegoro memberikan Pralada Nindyaswara

Salah satu kegiatan yang telah penulis lalui, selain mengikuti kegiatan YRO dan Sowan Abdi Dalem, terdapat juga kegiatan yang diadakan oleh Kawedanan Kridhamardawa yaitu Sayembara Orkestrasi Gendhing Keprajuritan. Sayembara ini dibuat untuk teman-teman abdi dalem musikan dan keprajuritan, dimana adanya kolaborasi untuk membuat sebuah orkestrasi gendhing lampah macak dan rikat, untuk keperluan baris-berbaris. Dalam kurun waktu dari bulan Februari sampai dengan Agustus, kami dibentuk sebuah kelompok dan berpikir bersama bagaimana gendhing asli dari prajurit di orkestrasi menjadi kesatuan orkes symphony yang megah dengan keseluruhan instrumen musik barat.

Abdi Dalem Musikan Di Keraton Yogyakarta

 

Keraton Yogyakarta memiliki Abdi Dalem yang khusus bertugas untuk memainkan musik Eropa. Kesatuan Abdi Dalem tersebut bernama Musikan. Nama Musikan berasal dari bahasa Belanda yang berarti musikus.

Walau jejak instrumen musik Eropa telah ditemukan sejak awal berdirinya Keraton Yogyakarta, namun tidak diketahui kapan tepatnya kesatuan Abdi Dalem Musikan berdiri. Catatan mengenainya baru muncul pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939).

Pada 26 Mei 1923, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Dirk Fock (1921-1926) berkunjung ke Keraton Yogyakarta. Sri Sultan mengadakan pementasan musik Eropa untuk menghormatinya. Untuk itu berbagai persiapan dilakukan. Termasuk membuat seragam baru dan mengutus seorang Belanda dan dua Abdi Dalem untuk membeli alat-alat musik tambahan ke Batavia (Jakarta). Kebutuhan protokoler ini diduga menjadi alasan kenapa kesatuan Musikan dibentuk.

Saat itu, kesatuan musik Eropa keraton memiliki 40 anggota dan orkesnya dinamai Kraton Orcest Djogja. Para Abdi Dalem Musikan diberi nama dengan kata-kata dari bahasa Belanda. Beberapa menggunakan nama-nama hari seperti Zondag (Minggu), Maandag (Senin), dan Dinsdag (Selasa). Beberapa menggunakan nama-nama bulan seperti Januari, Februari, Maret, April, dan Mei. Beberapa lainnya menggunakan nama-nama yang berasal dari opera. Seperti Aida, nama opera karya G. Verdi yang muncul tahun 1871 di Italia. Atau Carmen, judul opera karya Georges Bizet yang muncul pada tahun 1875 di Perancis. Ada juga yang mengambil nama dari komposer opera, seperti Leoni. Franco Leoni adalah nama seorang komposer berkebangsaan Italia yang hidup antara tahun 1864-1949. Nama-nama Abdi Dalem ini digunakan secara turun temurun. Nama tersebut akan disandang oleh keturunan yang menggantikan Abdi Dalem yang sudah berakhir masa tugasnya.

 

Pada masa itu Kraton Orcest Djogja berkembang dengan baik. Banyak kegiatan dilakukan. Seperti pementasan musik untuk mengiringi perarakan gunungan saat Garebeg Sawal, menyambut kunjungan para Gubernur Jenderal ke keraton, pentas dalam rangka penobatan Sunan Paku Buwono XI di Surakarta, menyambut kunjungan Sunan Paku Buwono XI ke keraton Yogyakarta, dan tak ketinggalan pementasan dalam rangka penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Selain pementasan dalam acara-acara penyambutan, Kraton Orcest Djogja melakukan kegiatan rutin di Pagelaran yang disebut Pasowanan. Ada pula pementasan dua kali sebulan di Societeit de Vereeniging, gedung rekreasi bagi orang Belanda yang kini menjadi bagian dari kompleks Taman Budaya Yogyakarta.

Perkembangan orkestra sudah sangat pesat dikalangan khalayak umum, tentunya masyarakat sudah pernah melihat secara langsung pertunjukan tersebut. Tentu saja semua tidak lepas dari pengaruh MUSIKAN yang telah mempopulerkan musik orkestra Eropa kepada masyarakat, sehingga masyarakat mulai melirik dan mencoba untuk menekuni musik barat tersebut sampai sekarang.

 

Sumber :

RM. Surtihadi. 2014. Instrumen Musik Barat dan Gamelan Jawa dalam Iringan Tari Keraton Yogyakarta. Journal of Urban Society's Arts Volume 1 Nomor 1, April: 24-43

RM Surtihadi. 2008. Tan Thiam Kwie. Yogyakarta: Panta Rhei

Tim Peneliti Akademi Musik Indonesia. 1982. Laporan Penelitian Musik Diatonik dalam Kraton Kasultanan Yogyakarta. Direktorat Kesenian, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kesenian DIrektorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Latihan Drum Mahir: Panduan Lengkap

     Banyak orang berpikir main drum itu cuma soal pukul-pukul keras dan terlihat keren di panggung. Tapi sebenarnya, drum adalah instrumen ...